新闻是有分量的

Ketika Bupati Dedi Mulyadi menggugat sistem pendidikan

发布于2016年11月25日下午2:59
2016年11月25日下午3:14更新

Bupati Purwakarta,Deddi Mulyadi,di SD Cikempung Cimahi,Purwakarta,2016年11月18日。Foto oleh Agung Fatma Putra。

Bupati Purwakarta,Deddi Mulyadi,di SD Cikempung Cimahi,Purwakarta,2016年11月18日。Foto oleh Agung Fatma Putra。

印度尼西亚BANDUNG - Siapa tak kenal Dedi Mulyadi? Bupati Purwakarta ini dikenal dengan berbagai kebijakannya yang nyeleneh dan bahkan kontroversial。

Pada periode pertama kepemimpinannya,misalnya,Dedi membuat beberapa patung bertema wayang。 Patung-patung itu kemudian disebar ke keberapa titik di kota Purwakarta。

Kehadiran patung-patung ini ternyata ditentang sejumlah ormas。 Mereka menghancurkan patung-patung tersebut dan menyebut Dedi syirik dan kafir。

Namun Bupati Dedi tak menggubris aksi penolakan tersebut。 Ia terus membuat patung dan melahirkan kebijakan nyeleh lainnya,yakni larangan berpacaran di atas jam 9 malam。

Peraturan yang dirilis pada September tahun lalu itu mengancam siapa saja yang kepergok berpacaran di atas jam 9 malam akan langsung di bawa ke Kantor Urusan Agama untuk dinikahkan。

Kiprah Bupati Dedi di dunia pendidikan juga cukup mencengangkan,bahkan cederung nekat。 Ia,misalnya,menerapkan lima hari sekolah dalam sepekan。 Aturan ini bertentangan dengan kebijakan pusat yang menerapkan 6 hari sekolah。

Bupati Dedi juga memajukan jam masuk sekolah menjadi jam 06.00 wib dari semula jam 07.00 wib。 Dengan masuk lebih pagi,siswa dan siswi di Purwakarta bisa pulang lebih cepat,yakni pukul 12.20 wib。

Dedi,melalui Peraturan Bupati No. 69 tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter,juga membuat aturan yang mewajibkan murid-murid yang tinggal di desa membantu orang tua mereka berkebun atau bertani atau memelihara ternak。

Peraturan ajaib Bupati Dedi lainnya di bidang pendidian yaitu:

  • Setiap Peserta Didik yang beragama Islam wajib menjalankan puasa (shoum) sunnah hari Senin dan Kamis。
  • Peserta Didik wajib membawa makanan dan minuman dari rumah ke sekolah。 Aturan ini diikuti dengan larangan menjual makanan dan minuman di sekolah dan larangan pelajar jajan di sekolah。
  • Larangan merokok bagi pelajar,baik di sekolah maupun luar sekolah dengan ancaman sanksi tidak naik kelas。
  • Syarat tambahan naik kelas bagi siswa:wajib memiliki minimal 10 pohon keras produktif,memelihara hewan ternak,atau keterampilan lainnya
  • Bagi siswi,wajib memiliki keterampilan memasak,menyulam,menenun,dan bercocok tanaman hias。

Selain aturan-aturan tersebut,Bupati Dedi juga melarang pelajar mengendarai sepeda motor ke sekolah,meskipun pelajar tersebut telah memiliki Surat Izin Mengemudi(SIM)。 Satu lagi peraturan unik lainnya,yaitu larangan bagi para guru memberikan pekerjaan rumah kepada para muridnya。

Aturan-aturan nyeleh ini,tentu saja,melahirkan pro-kontra。 Ada yang setuju,ada pula yang menolak。 Mengenai aturan masuk sekolah jam 06.00 wib,misalnya,mendapat reaksi positif dari Kepala sekolah SMP Negeri 1 Purwakarta Heri Wijaya。

“Jam 06.00 lebih pagi lebih segar。 Kalau ada kegiatan lapangan upacara,matahari belum terik。 Jadi tidak ada anak yang pingsan。 Kalau dulu,kita mulai jam 07.00 pasti aja ada anak yang pingsan,“kata Heri Wijaya。

回复positif juga diungkapkan Nasya Githa,siswi kelas 9 SMP Negeri 1 Purwakarta。 “Shalat subuh jadi gak pernah telat。 Dulu waktu masuk sekolah jam 7,bangunnya ditunda-tunda,males-malesan,sekarang lebih rajin,“katanya。

Sementara siswa lain,Kevin Aditya,masuk sekolah lebih awal memberi keuntungan karena bisa pulang lebih awal。 Namun siswa 15 tahun itu merasa kasihan kepada orang tuanya。 “Pagi-pagi banget mereka harus bangun menyiapkan bekal,”ungkap Kevin。

Keluhan juga disampaikan seorang ibu wali murid yang tak ingin disebutkan namanya。 Ibu ini mengeluhkan jam masuk sekolah yang dimajukan dan pada saat yang sama pelajar juga dilarang membawa motor。

Foto oleh Yuli Saputra / Rappler

Foto oleh Yuli Saputra / Rappler

Dua aturan ini menurutnya sangat membuatnya kerepotan。 Sebab jarak rumahnya dengan sekolah cukup jauh,yakni sekitar 25 km。 “Rumah kan jauh,anak saya harus berangkat subuh,kadang-kadang suka kesiangan karena gak dapat kendaraan,jadi suka diam-diam bawa motor,”kata ibu tersebut。

Seharusnya,Ibu ini melanjutkan,pelajar yang tinggal jauh dari sekolah diperbolehkan mengendarai sepeda motor。 Apalagi,anaknya juga sudah mengantongi Surat Izin Mengemudi(SIM)。

Namun lain lagi pendapat Aji Badriah。 Orang tua siswa ini mengatakan jam masuk sekolah yang dimajukan menjadi pukul 06.00 wib bagus buat kesehatan murid。 “Kesehatan anak lebih terjaga,”kata ibu berusia 39 tahun itu。

Seorang dosen dari Universitas Swasta asal Purwakarta,Firmansyah,menilai larangan pelajar membawa motor tidak akan efektif karena banyak pelajar yang tinggal di pedalaman yang daerahnya tidak diakses angkutan umum。

“Kalau mereka yang tinggal di pedalaman harus naik ojek ke sekolah,pasti akan memakan biaya lebih banyak,”kata Firmansyah.Menurutnya aturan larangan membawa motor bagi pelajar hanya akan efektif jika angkutan umum tersedia hingga ke pelosok Purwakarta。

Seharusnya,kata Firmansyah,kebijakan baru diuji coba dulu sebelum benar-benar diterapkan。 Dengan begitu akan ada masukan dari masyarakat untuk menyempurnakan kebijakan tersebut。 “Tapi ini enggak,jadi terkesan dipaksakan,”kata Firmansyah。

Lalu apa kata Bupati Dedi? Apa yang membuatnya nekat menelurkan kebijakan dan aturan-aturan nyeleh tersebut? Berikut penuturannya saat menjamu Rappler di rumah dinasnya yang teduh di Purwakarta,Kamis,2016年11月10日。

Bupati Dedi Mulyadi di rumah dinasnya di Purwakarta。 Foto oleh Agung Fatma Putra。

Bupati Dedi Mulyadi di rumah dinasnya di Purwakarta。 Foto oleh Agung Fatma Putra。

Kebijakan anda berbeda dari daerah-daerah lain,bahkan bisa dibilang nyeleneh。 Apa yang membuat anda berani mengeluarkan kebijakan-kebijakan tersebut?

Ya,sebenarnya bukan kebijakan yang berbeda,kebijakan yang semestinya dilakukan tetapi karena para pejabat lebih cenderung kepada aspek-aspek yang bersifat normatif,kegiatan-kegiatan yang rutinitas,sehingga kegiatan yang subansial,yang semestinya dilakukan,tidak dilakukan。

Dampaknya seperti ini:pembangunan jalan di tempat,tidak mengalami perubahan yang signifikan,masyarakat tidak mengalami perubahan kultur untuk lebih memahami diri dan lingkungannya。

Jadilah masyarakat seperti ini,yang memerlukan waktu yang cukup panjang untuk melakukan perubahan-perubahan kembali menjadi diri kita。

Dasarnya adalah kebutuhan。 Kebutuhan itu terkerangkeng oleh tata krama birokrasi yang terlalu normatif,tidak substantif。 Karena birokrasi yang terlalu normatif,akhirnya hal-hal yang tidak dibutuhkan dibuat menjadi ada,hal-hal yang dibutuhkan,tidak ada。

Padahal pemimpin itu harus melakukan perubahan,bukan menjadi pegawai administratif。 Maka dia harus menjadi manajer yang mampu mengarahkan para pelaku admnistratif,yang di dalamnya PNS,untuk melakukan perubahan。 Dan administrasi itu hanya bungkus saja menurut saya。

Apa yang melatarbelakangi keluarnya aturan-aturan nyeleneh itu?

Pengalaman hidup。 Saya dididik sejak kecil dari orangtua sederhana,bagaimana hidup menjadi orang susah,bagaimana menjadi seorang tani,bagaimana menjadi seorang peternak,bagaimana menjadi seorang aktivis organisasi,bagaimana menjadi buruh,bagaimana menjadi pedagang kecil,saya mengalami semuanya。

Karena mengalami semua,cuma jadi nelayan saja saya tidak mengalami karena saya bukan orang laut,hampir seluruh kebutuhan publik saya memahami。 Dari sanalah,saya melakukan langkah-langkah yang dianggap dibutuhkan masyarakat。

Apa betul aturan-aturan yang Anda keluarkan sesuai kebutuhan warga?

Waktu awal jadi Bupati(2008),orang menentang,berdemonstrasi,menolak,mengancam,akan membunuh malah。 Tapi,pemimpin tidak boleh surut dengan gagasan。

Karena menurut saya,keasyikan menjadi pemimpin itu adalah mewujudkan gagasan。 Ketika gagasan kita ditentang,malah itu asyik。 Artinya,ada sesuatu,kita harus kerja keras menyakinkan orang karena pemimpin hebat itu bukan pemimpin yang mengubah dari mungkin menjadi tidak mungkin,tetapi yang tidak mungkin menjadi nyata。

Kalau sesuai dengan keinginan,tidak mungkin。 Karena publik itu ada tiga。 Satu,publik yang mendukung kita,salah pun dibela。 Dua,publik yang menentang kita,benar pun jadi salah。 Ketiga,publik apatis,gak peduli。

Ukurnya demokrasi dan tingkat elektabilitas。 Kalau tingkat eletabilitasnya semakin tinggi,berarti semakin banyak yang simpati。 Berarti kebijakan itu diterima。

Anda banyak mengeluarkan aturan pendidikan,yang menurut saya mendobrak aturan yang sudah ada ....

Pendidikan kita ini sekolah administrasi。 Guru mengajar administrasi,mengajarkan buku yang ada paketnya,mengajarkan kurikulum yang sudah ditetapkan,membuat pelaporan dari seluruh pekerjaannya,memberikan angka-angka pada laporan semester dan akhir tahun pada murid-muridnya。

Itu kan administratif。 Apakah pendidikan hanya dilahirkan oleh itu? Kalau pendidikan hanya dilahirkan oleh itu,saya sudah minta sekolah dibubarkan。 Ganti sama kursus。 Lebih efektif,lebih mudah,dan lebih murah。

Sekolah terbaik di dunia adalah sekolah yang memberikan pengalaman seluas-luasnya bagi muridnya。 Jadi sekolah sejati itu yang memberikan pengalaman hidup bagi kita。

Pertanyaan saya adalah,sekolah-sekolah yang dibuat pemerintah itu memberikan pengalaman atau pengajaran? (Menurut saya)membuat pengajaran,bukan membuat pengalaman。

Sehingga orang belajar ekonomi di sekolah tidak dibuat pengalaman ekonomi,dibuat pengajaran ekonomi。 Belajar budi pekerti di sekolah tidak dibuat pengalaman budi pekerti,tetapi dibuat pengajaran budi pekerti,gitu loh。

Pelajaran agama bukan dibuat pengalaman beragama secara paripurna,tapi pengajaran agama。 Semuanya berujung administratif。 Karena administratif,orang mengejar angka di laporan akhir semester dan akhir tahun。

Karena mengejar angka,anak harus bisa menjawab。 Karena anak harus bisa menjawab,maka anak harus banyak ngapalin。 Selain banyak ngapalin,anak harus ditambah lagi les dan bimbel。

Lahirlah pendidikan bisnis yang menguntungkan percetakan buku,pembuat alat peraga dan pembuat bimbel-bimbel。 Hasilnya seperti apa? Tetap saja kita tidak menjadi orang yang kreatif dan produktif。 Buktinya serba beli。

Ada kebijakan anda yang berbeda dengan kebijakan pusat,apakah susah menerapkannya?

Bupati Dedi Mulyadi melihat siswa yang sedang menulis di papan tulis。 Foto oleh Agung Fatma Putra。

Bupati Dedi Mulyadi melihat siswa yang sedang menulis di papan tulis。 Foto oleh Agung Fatma Putra。

Gak susah。 Pusatnya harus merubah diri,dan pusat sudah mulai merubah diri sekarang。 Dulu saya memelopori sekolah cuma lima hari,tidak ada PR,pelajaran coba dikurangin,masuk sekolah jam 6 pagi,sekarang mendiknas punya kebijakan itu。

Pusatnya sekarang yang mulai merubah diri。 Artinya bahwa,Kementrian Pendidikan Nasional sekarang tidak merasa kedudukannya lebih tinggi dari daerah。 Kalau di daerah ada yang lebih baik,menteri pendidikan sekarang berani loh,lihat di daerah itu,contoh,kan bagus。

Jadi daerah harus memiliki otonomi di bidang pendidikan?

雅哈鲁斯。 Negara yang terbaik itu,negara yang membiarkan masyarakatnya otonom。 Masyarakat otonom itu,masyarakat杨曼迪。 Masa masyarakatnya mandiri,negara gak setuju。

Ya harus didorong dong masyarakatnya mandiri。 Tinggal nanti,pemerintah pusat punya kebijakan mana pendidikan daerahnya yang memiliki kemajuan dengan kemandirian。

Kalau daerah itu sudah maju dengan kemandiriannya,gak usah diberi kurikulum segala macam,suruh aja dia bikin sendiri。

Pendekatan pendidikan administrasi(harus diubah)menjadi pendidikan yang holistik。 Guru-guru jangan terpaku pada buku,jangan terpaku pada kurikulum。 Guru-guru harus mengajarkan segala fenomena alam yang ada di lingkungannya。

Itu berarti guru-guru sebagai ujung tombak pendidikan harus diubah mindset-nya?

Itu problemnya,大师。 Karena gurunya takut sama juklak dan juknis。 Banyak guru yang sudah berani,banyak guru gila di Purwakarta。

Gak apa-apa,bagi saya diberikan ruang。 喇嘛喇嘛juga ngikutin。 Banyak kepala sekolah yang mulai gila。 Gila itu artinya,dia tidak mau lagi terpaku pada sesuatu yang mengikat dirinya。

Banyak yang mulai keluar,开箱即用。 Itu penting loh。 Gimana kalau开箱即用,kita bisa menjadi bangsa yang besar?

Saya menemukan sekolah SD dengan padang rumput yang sangat hijau di halamannya。 呃,gurunya malah bikin lapangan volley kecil。 Saya cabut tiang-tiang volleynya。

Saya bilang,ngapain lo bikin yang begini,sudah punya halaman yang begitu luas。 Orang tuh bikin sekolah hijau。 Sekolah alam tuh mahal。 kamu tuh belakangnya ada danau yang begitu luas,di halaman ada padang rumput yang begitu luas,masa tidak dijadikan laboratorium hidup bagi anak-anaknya。

Sehingga saya minta setiap hari anak-anaknya bawa kambing ke dekat sekolahnya,di lepas di halaman sekolahnya。 Kemudian,sambil nungguin kambing,gurunya ngajar di bawah pohon sama muridnya。

Ngajar sambil anak-anaknya merhatiin hewan peliharaannya。 Sambil ngajar,di belakangnya danau,anak-anak sudah pintar naik perahu,kan bisa dong guru-guru ngajar di atas perahu,sambil menjelaskan bagaimana ini danau,sambil anak-anaknya dibawa mimpi,bagaimana membuat danau yang lebih hebat dari ini。

Berarti pengajarannya keluar dari kurikulum yang sudah ditetapkan pemerintah pusat?

Harus keluar(dari kurikulum)。 Ya keluar dari kurikulum itu,tidak berarti bertentangan dengan kurikulum。 Keluar kurikulum itu,keluar dari kerangkeng yang menghilangkan kreatifitas。 Substansi dari kurikulum tetap kita ajarkan。

Justru yang saya laksanakan itu lebih mendekati kurtilas(kurikulum 2013),pendidikan kreatifitas,hilangkan PR,anak-anak mulai menekuni sesuatu sesuai dengan keinginannya。 Kan itu kurtilas sebenarnya。 Guru lebih jadi pemerhati bagi muridnya。 Cuma memang gurunya harus lebih pintar dari muridnya。

Makanya itu,pendekatan gurunya jangan terlalu normatif。 Pendekatan大师harus holistik。 大师itu harus ditempatkan sesuai dengan kulturnya。

Kalau guru pinggir pantai harus mengerti dong budaya laut。 Kalau guru ngajar di area pertanian harus mengerti budaya padi,sayur,buah。 Kalau guru ngajar di savanah hijau harus ngerti budaya peternakan。 Nah itu guru menjadi pemandu bagi peningkatan kualitas murid-muridnya。

Apakah aturan pendidikan berkarakter ini wajib diterapkan di semua sekolah di Purwakarta?

Kita fokus ke negeri karena swasta kadang-kadang punya ini(kebijakan)sendiri。 Dan saya gak bisa memberikan sanksi ketika gurunya melanggar。 Kalau negeri,ada sanksinya。

Kepala sekolahnya kita berhentiin,kalau tidak bisa mengendalikan sistem itu。 Ya gimana,orang kita ini tambah pintar,tapi kok tambah miskin。 Miskin secara材料。 Hutang kita banyak,beras,garam beli dari luar,jagung beli dari luar,telor susu juga。 Masyarakat tidak ada yang produktif,apa gak miskin。

Tanah-tanah sudah beralih kepemilikannya。 Hak atas tanah sudah berubah。 Orangtua sudah tidak bisa menitipkan sawah yang luas kepada anak-anaknya,apa gak miskin。 Gagah hebat tapi hutangnya gede,apa gak miskin。

Anda terkesan otoriter dalam menerapkan kebijakan ini

Iya dong,harus(otoriter)。 Mengubah itu harus dengan tangan besi。 Kalau tangan yang lembek,habis di Indonesia。 Sekarang dibully aja udah nangis,harus kuat dong。 Karena gimana,kita setiap hari berhadapan dengan anak yang balapan di pinggir jalan,umurnya belasan。 Mau pakai tangan apa? Harus otoriter,harus jelas sikapnya。

Bagaimana dengan para orangtua,yang juga menjadi pihak yang terlibat dalam pendidikan karakter anak?

Orang tua juga diatur。 Ada peraturan budaya desa,ada buku kendali anak。 Makanya,kalau anaknya nakal,salah orangtuanya。 Kan ada buku kendali。 Anak bangun jam berapa,ke sekolah jam berapa,makan sama apa,harus dicatat dong sama orangtuanya。 Nanti pulang jam berapa,setelah pulang dia tidur atau enggak。

Nah sekarang ini,anak-anak itu lepas dari orang tuanya。 Dulu anak takut sama orang tuanya。 Hari ini terbalik loh,orang tua takut sama anaknya。

Saya suka bingung sama orangtua yang tidak memiliki kecemasan terhadap anak-anaknya,terutama anak perempuan yang belum pulang jam 12 malam,orang tuanya cemas apa enggak。

Itu sebabnya anda mengeluarkan aturan yang melarang pelajar keluar rumah lebih dari jam 9 malam?

Yang gitu kan pendidikan kultur sudah kuat。 Anak tidak boleh keluar Maghrib,itu kan dari zaman Belanda。 Apalagi seiring dengan dunia informasi yang semakin kuat,berarti kan kesempatan untuk mengakses pendidikan yang sangat baik untuk anak itu sangat mudah kan。

Orang diajarin sama kultur,gak diajarin sama kultur,diajarin sama teknologi informasi。 Di Rappler aja dibaca,tinggal dibuka pendidikan anak yang baik。

Menurut saya,hari ini orang tuanya kurang beres ngurus anaknya。 Anaknya disetrikain enggak bajunya,dimandiin enggak。 Orang tua sekarang ini,banyak sibuk gak jelas。 Dulu,orang tua jelas kesibukannya。 Orang tua sekarang banyak yang sibuk sendiri。

Makanya,saya keluarkan aturan anak-anak tidak boleh jajan sembarangan harus bawa bekal dari orang tuanya。 Saya melindungi anak-anak banget。

Anda juga mengeluarkan larangan pacaran bagi pelajar,malah ada ancaman dikawin paksa jika pacaran lebih dari jam 9 malam,ini serius akan diterapkan?

Itu kan sebenarnya,ada yang disebut psywar untuk membuat orang lebih berhati-hati,gitu loh。 Di kita itu kalau gak dengar ancaman hukuman sekian tahun,orang gak takut。

Nah,kita ini belum sampai pada tingkat bangsa yang memiliki kesadaran,kita ini baru sampai pada tingkat bangsa yang memiliki rasa takut。

Coba tanya deh,orang pakai helm karena apa。 Karena takut ditilang,bukan ingin melindungi kepalanya。 Jadi kita takut-takutin dulu,nanti kalau sudah terbiasa,akan lahir kesadaran。

Jadi betul,mau dikawin paksa jika ada pelajar yang pacaran lewat jam 9 malam?

Tidak juga begitu。 Itu kan kebanyakan diingatkan saja。 Kecuali memang yang usia sangat dewasa,terus dua-duanya single,ya nikahin aja。 Kan sudah dewasa,apa susahnya sih。 Kalau anak-anak,enggak。

-Rappler.com